Select Menu

Favourite

TENTANG CINTA

INSPIRING

SENI DAN BUDAYA

WISATA

RELATIONSHIP

Serba Serbi

LIFESTYLE

KAWRUH JAWA

KULINER

Puing rindu yang lama terkubur didalam putaran waktu
kini perlahan bangkit dan beterbangan bagai kupu-kupu
meliuk gerak tubuhnya mengajakku menari dilantai dansa
kepak sayapnya mengalunkan senada indah lagu nostalgia
 
duhai gadis manis yang pernah memenjara hati ini
pemilik lengkung bibir yang memancar warna pelangi
mekar selaksa bunga dalam kalbuku saat kau tersenyum
menghiasi taman cinta yang tumbuh merebak wangi harum
meski angin berhembus membawa detik waktu berjalan
namun inginku selalu berada dikala dulu kita berdua
merajut asa menggapai mimpi yang terselip di awan
menangis dalam rindu dan tertawa ditengah riuh canda
kini kau tengah berlayar bersama yang lain diatas sampan
perahuku juga sedang bersandar didermaga negeri seberang
namun jejak langkah kakimu masih tergambar dalam ingatan
ketika kita menyusuri pantai dan rebah diatas batu karang
wahai tuan putri penguasa kerajaan cinta di masa lalu
sudikah kiranya kau turun sejenak menemaniku bernyanyi
biar kupetikkan lagi dawai gitar mengiring desah merdu
sekedar menumpahkan rasa yang sekian lama bersembunyi
tersadar diri ternyata waktu tak berpihak kepadaku
Berjalan melenggok si burung merak jantan
bergaun biru mekar sayapmu setengah lingkaran
badan memutar kekiri kekanan mencari perhatian
layaknya peragawati di panggung pertunjukan
pergi keluar kandang ketika menjelang malam hari
menenteng beauty case berisi kosmetik warna warni
menyusuri sepanjang bibir jalan dibawah sinar bulan
sayapmu kembali mekar menawarkan sejuta keindahan
aduhai cantiknya dirimu tak sangka kau adalah lelaki
dibalik gaunmu yang beraksen hijau biru bulatan hati
cahya rembulan berpendar riang menyilau gemerlap sayapmu
sejuta pasang mata tak mampu berpindah menatap wajahmu
sapanjang malam kau habiskan waktumu berdiri tepi jalan
menunggu datangnya lelaki hidung belang mengajak berkencan
terpukau keindahan rupa wajah dan lekuk tubuhmu yang seksi
membuat mabuk kepayang lelaki jadi lupa dirumah punya istri
hingga pada suatu malam, si burung merak kembali beraksi
sepatu high hill putih kau injak menambah tinggi semampai
namun tak seperti biasa kau nampak menyimpan gundah di hati
mengingat telah bertengkar hebat dengan kekasihmu tempo hari
tak terasa jarum jam sudah menunjuk ke angka empat
tiba tiba sebuah sorot lampu sepeda motor mend
Berjalan melenggok si burung merak jantan
bergaun biru mekar sayapmu setengah lingkaran
badan memutar kekiri kekanan mencari perhatian
layaknya peragawati di panggung pertunjukan
pergi keluar kandang ketika menjelang malam hari
menenteng beauty case berisi kosmetik warna warni
menyusuri sepanjang bibir jalan dibawah sinar bulan
sayapmu kembali mekar menawarkan sejuta keindahan
aduhai cantiknya dirimu tak sangka kau adalah lelaki
dibalik gaunmu yang beraksen hijau biru bulatan hati
cahya rembulan berpendar riang menyilau gemerlap sayapmu
sejuta pasang mata tak mampu berpindah menatap wajahmu
sapanjang malam kau habiskan waktumu berdiri tepi jalan
menunggu datangnya lelaki hidung belang mengajak berkencan
terpukau keindahan rupa wajah dan lekuk tubuhmu yang seksi
membuat mabuk kepayang lelaki jadi lupa dirumah punya istri
hingga pada suatu malam, si burung merak kembali beraksi
sepatu high hill putih kau injak menambah tinggi semampai
namun tak seperti biasa kau nampak menyimpan gundah di hati
mengingat telah bertengkar hebat dengan kekasihmu tempo hari
tak terasa jarum jam sudah menunjuk ke angka empat
tiba tiba sebuah sorot lampu sepeda motor mend
Karam disudut palung pengharapan
menggapai pucuk tunas daun cemara
sejenak terdiam di sisi jurang penantian
tanganku meraih bayang semu arti cinta
sekian waktu menunggu terbuang percuma
tiada lagi tersirat makna diri bagimu tuan
tersadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa
bersandar pada denyut nadi ketidakpastian
benih kasih yang tertanam dilubuk hati
kini makin pupus dihempas derai airmata
hanya sekedar berharap titis embun pagi
perlahan hilang sirna saat mentari menyapa
mungkin kau terlahir bukanlah untukku
sudah suratan nasib yang harus kujalani
tiba saat putaran musim lengang berlalu
kuingin terbang ke awan bersama merpati
tidakkah kau berkenan membuka pintu hati
biarkanku berdiri ditengah deras rinai hujan
batin merintih bagai terkurung didalam peti
terseret riak gelombang samudera kerinduan
Sudah sekian lama aku berada disekitarmu
melangkah bersama seiring karya tercipta
terlarut didalam nada alunan detik waktu
yang merayap pelan diantara kolong meja
wajahmu laksana hamparan hijau ladang padi
mampu teduhkan jiwa yang kini sedang goyah
tutur bahasamu terurai selembut warna pelangi
bagai air bening mengalir basahi tanah sawah
meski kutahu kau sudah ada yang punya
tapi kutak sanggup menahan gejolak rasa
biar bibirku mampu mengucap kata ‘tidak’
namun didalam batinku tak bisa menolak
lembaran hariku penuh terisi gambar tentangmu
yang meraja diatas mahligai istana negeri impian
mengajakku terbang ke awan diantara bintang
kan kureguk nikmat secangkir ilusi semanis madu
tanpamu disampingku laksana seribu malam merindu bulan
begitu mudahnya wajahmu menjelma saat mataku terpejam
hingga aku terseret dalam arus pusaran cinta yang terlarang
membuatku tersesat dan sejenak lupa kemana arahku pulang
tatkala ku terjaga dari lelap tidur semalam
kuberada disebuah sudut persimpangan jalan
aku terdiam dan tak tahu akan menuju kemana
benakku ingin kembali tapi batinku tak bersedia
kucoba kirimkan pesan kepada mega di angkasa
agar turunkan tirai ‘tuk menahan bulan bercahaya
namun setangkup rindu masih saja terselip disana
tiada tempat tuk bersembunyi dari bayangan cinta
ditengah keraguan ini aku tersimpuh
beralaskan kegalauan hati yang dalam
hanya kepadaMu tempatku mengadu
kuatkanlah jiwa yang kini mulai rapuh
Murni adalah sebuah nama seorang perempuan
wajahnya sederhana namun manis bila dipandang
tumbuh dewasa didalam asuhan alam pedesaan
terlahir dari rahim istri seorang petani bawang
Memendam hasrat ingin membuat orangtua bangga
Murni berniat pergi kekota berjuang mengadu nasib
didalam benaknya menjulang harapan setinggi mega
nasihat mengiringi langkahnya agar tak berbuat aib
Tergiur setumpuk pundi cemerlang menyilau mata
berbekal polos hati dan keteguhan jiwa menyala
segenggam asa terbungkus dalam tekad membara
tinggalkan kampung halaman menuju jantung ibukota
Detik waktu trus berjalan tiada yang mampu menyela
apa yang terjadi kini tidaklah seperti yang dibayangkan
mencari sesuap nasi tak semudah kedip kelopak mata
Murni terdampar ditengah gemerlap kehidupan malam
Seakan terlupa dengan janji yang terucap dulu
demi menyambung hidup Murni rela menjual diri
martabatnya tlah hancur tergilas putaran waktu
hinggap dipelukan lelaki hingga menjelang pagi
Namun jauh didalam relung hatinya murni meronta
ketika tersadar akan perilakunya yang tak terpuji
kabar tentangnya terlanjur membuat malu keluarga
Murni telah jauh tersesat di belantara sepi sendiri
Buta mata hatinya tertutup kabut kegelisahan
tak sanggup memikul segala beban penderitaan
Murni memilih jalan pintas meneguk ramuan setan
terbang bersama ilusi tuk melepas sejuta persoalan
Sampailah waktu dimana Murni tak dikenali
wajahnya yang manis tersamar debu jalanan
duduk termangu di sudut lorong yang sunyi
tersenyum sendiri menyapa riuh kekosongan
Murni telah kehilangan jati diri
tiada keinginan untuk kembali
Murni telah kehilangan ingatan
jadi korban kejamnya kehidupan

mudahnya mulut bicara semudah kerdipkan mata
sejenak terlupa peristiwa yang menggores luka
tak ubahnya dengan penjual jamu pinggiran jalan
semata demi laku terjual keping barang dagangan
seribu janji melambung tinggi ke puncak bukit
menebarkan sejuta harapan menembus kaki langit
setinggi merpati terbang tak sedikitpun menyentuh tanah
nampak emas berkilau namun sejatinya seonggok sampah
dalam benaknya tertulis harga mati meraih kemenangan
tak peduli apapun diperbuat meski menipu hati nurani
sejenak rela wajahnya berkaca pada air hitam comberan
bagai orang suci dengan telunjuk mengarah kesana kemari
berjuta nyawa telah terbuang jadi tumbal keserakahan
disudut kamar anak anak angsa menangis dalam pasungan
dipaksa menanggung dosa yang tak pernah dia lakukan
tunas muda tak mampu bertumbuh ditebas pisau kekuasaan
bekas darah yang tumpah tiada pernah terhapus
setiap perih luka tersayat musti terbayar impas
harapan tuk bertemu sinar pagi telah lama pupus
terlarut dalam gelap bersama impian yang kandas
bagaimana kau bisa membingkai sepotong wajah
yang hendak kau selipkan diantara nama pahlawan
sedangkan tangis anak anaknya belum juga reda
tiada terganti meski hayat terlepas dari badan
memanglah benar bahwa lidah tak bertulang
kala betutur kata kata manis semanis madu
apapun yang akan kau katakan di jaman sekarang
tak seperti apa yang kau bicarakan dimasa lalu
pucuk ilalang hanya menunggu semilir angin datang
bersama belalang yang bermain disela sela ranting
meraka tak butuh lagi kisah indah sebelum tidur menjelang
peluk tubuh dan basahi jiwa mereka yang telah lama kering
hanya sejarah yang menjadi saksi bisu
yang terbungkam didalam pusaran waktu
hingga kini masih terdiam dan membeku
akankah terbuka dari ikatan belenggu
bila saja diantara hati mau diajak bicara
tentu kebenaran dan keadilan akan segara tiba
memecah kerinduan yang selama ini tertahan
menjelma menjadi serangkai senyum kebahagiaan